Warga Desa Kedunglegok Purbalingga Gelar Tradisi Nyadran Sambut Bulan Suci Ramadan
PAMOR, PURBALINGGA - Menyambut bulan suci Ramadan warga Desa Kedunglegok Kecamatan Kemangkon Purbalingga gelar nyadran. Sadranan atau nyadran digelar warga Desa Kedunglegok Purbalingga, Kamis 27 Februari 2025.Nyadran terdiri dari serangkaian kegiatan yang sarat makna dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Prosesi tradisi Nyadran termasuk di Desa Kedunglegok Purbalingga masing-masing adalah. Besik (Pembersihan Makam) Masyarakat bersama-sama membersihkan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan. Kegiatan ini mencerminkan semangat gotong royong dan penghormatan terhadap leluhur. Selanjutnya ada Kirab (Arak-Arakan) Peserta Nyadran melakukan arak-arakan menuju tempat upacara adat. Kirab ini sering diiringi dengan kesenian tradisional, seperti musik gamelan atau tarian khas daerah.
Kemudian ada Ujub (Penyampaian Maksud) Pemangku adat menyampaikan maksud dan tujuan dilaksanakannya Nyadran.Ujub ini menjadi pengingat akan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi ini. Dilanjutkan doa bersama, pemangku adat memimpin doa bersama yang ditujukan untuk roh leluhur. Doa ini menjadi inti dari Nyadran, sebagai bentuk penghormatan dan permohonan berkah.
Agenda selanjutnya adalah Kembul Bujono atau makan bersama. Setelah doa, masyarakat menggelar makan bersama. Setiap keluarga membawa makanan tradisional, seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur, dan tempe bacem. Makanan tersebut didoakan oleh pemuka agama sebelum dinikmati bersama. Kembul Bujono menjadi momen untuk mempererat hubungan sosial dan kebersamaan.
Untuk diketahui, Nyadran adalah sebuah tradisi dan budaya bagi masyarakat Jawa.Ini biasa menjadi momen penting menjelang datangnya bulan suci Ramadan Nyadran biasanya dilaksanakan pada bulan Ruwah (kalender Jawa) atau Sya’ban (kalender Hijriyah). Nyadran tidak hanya sekadar ziarah kubur, tetapi juga sarana untuk menguatkan tali silaturahmi. Tidak hanya itu saja, dan juga gotong royong, dan refleksi akan makna kehidupan.
Tradisi Nyadran ini biasanya dilaksanakan pada tanggal 15, 20, atau 23 Ruwah. Meskipun ada pula yang melaksanakannya pada hari ke-10 bulan Rajab atau awal Sya’ban. Nyadran ini menjadi bukti akulturasi budaya Jawa dan Islam yang harmonis.
Kata "Nyadran" sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, "Sraddha," yang berarti keyakinan. Tradisi ini awalnya merupakan bentuk penghormatan dan doa untuk leluhur yang telah meninggal. Seiring waktu, Nyadran berkembang menjadi tradisi yang kaya akan nilai sosial dan budaya. Menurut Kades Kedunglegok Kecamatan Kemangkon Purbalingga, Sudarno, Nyadran bentuk wujud rasa syukur. Hal itu diwujudkan mengunjungi makam makam para leluhur mendoakan dan membersihkan makam.Nyadran juga mengingatkan manusia akan kematian dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama."Di Desa Kedunglegok Purbalingga, Nyadran menjadi agenda tahunan menyambut bulan suci Ramadhan," katanya.
PAMOR, PURBALINGGA - Pengelola obyek wisata Owabong Kabupaten Purbalinga menggelar Kirab